Jakarta, 2 September 2026 – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia kembali menjadi perhatian regional setelah dilaporkan mencapai beberapa negara di Asia Tenggara. Asap dari kebakaran di Sumatra dan Kalimantan terbawa pergerakan angin hingga memengaruhi kualitas udara di wilayah negara tetangga, termasuk Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Filipina. Situasi tersebut kembali mengangkat persoalan pencemaran asap lintas batas yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu tantangan lingkungan bersama negara-negara ASEAN. Sejumlah negara terdampak meningkatkan pemantauan kualitas udara dan menyampaikan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan masyarakat apabila kabut asap berlangsung dalam waktu lama. Indonesia pada saat yang sama terus melakukan operasi pemadaman dan pengendalian kebakaran untuk menekan jumlah titik api serta mencegah penyebaran asap semakin luas.
Dampak yang cukup menonjol terlihat di Filipina setelah kualitas udara di sejumlah kawasan Metro Manila mengalami penurunan signifikan. Pada Selasa pagi, beberapa wilayah mencatat konsentrasi partikel halus PM2,5 yang tinggi sehingga kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Parañaque tercatat memiliki indeks kualitas udara sekitar 296, disusul Quezon City 241 dan Las Piñas 237, sedangkan Kota Manila berada pada angka 231. Otoritas lingkungan Filipina menyebut peningkatan polusi tersebut kemungkinan berkaitan dengan kabut asap yang berasal dari kebakaran di Kalimantan. Kondisi itu membuat masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan udara buruk.
Malaysia juga menghadapi peningkatan kabut asap, terutama di sejumlah kawasan yang secara geografis berdekatan dengan Kalimantan. Wilayah Sarawak menjadi salah satu daerah yang mendapatkan perhatian karena kualitas udara di beberapa lokasi mengalami penurunan ketika asap terbawa melintasi perbatasan. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan indeks pencemaran udara dan menentukan langkah yang diperlukan apabila kondisi semakin memburuk. Pemerintah setempat juga memperhatikan kemungkinan dampak terhadap kesehatan, kegiatan pendidikan, serta aktivitas masyarakat di luar ruangan. Pengalaman menghadapi kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya membuat Malaysia memiliki mekanisme pemantauan yang dapat segera diaktifkan ketika konsentrasi polutan mengalami peningkatan.
Singapura turut meningkatkan perhatian terhadap perkembangan kabut asap regional karena perubahan arah angin dapat membawa partikel hasil kebakaran menuju wilayah negara tersebut. Sebagai negara yang memiliki wilayah relatif kecil dan kepadatan penduduk tinggi, perubahan kualitas udara dapat dengan cepat memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat. Pemerintah Singapura selama ini menggunakan pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan untuk memberikan informasi mengenai kondisi atmosfer kepada masyarakat. Risiko paparan PM2,5 menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Perkembangan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan karena itu terus menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam memperkirakan kondisi udara regional.
Brunei Darussalam dan sebagian wilayah Thailand juga masuk dalam kawasan yang berpotensi terdampak penyebaran kabut asap apabila kondisi angin mendukung pergerakan partikel lintas batas. Dampaknya dapat berbeda di setiap negara karena dipengaruhi lokasi kebakaran, kecepatan angin, curah hujan, dan kondisi atmosfer. Dalam situasi tertentu, asap dapat bergerak ratusan hingga ribuan kilometer dari sumber kebakaran sebelum akhirnya memengaruhi kualitas udara wilayah lain. Kondisi tersebut membuat karhutla tidak lagi hanya menjadi persoalan domestik ketika asap telah melintasi batas negara. Penanganannya kemudian membutuhkan komunikasi dan koordinasi regional agar negara yang terdampak memperoleh informasi mengenai perkembangan kebakaran dan prediksi penyebaran asap.
Munculnya keluhan dan perhatian dari negara-negara tetangga sekaligus meningkatkan tekanan agar kebakaran di Indonesia dapat segera dikendalikan. Namun, persoalan mengenai kabut asap lintas batas membutuhkan verifikasi berdasarkan pemantauan atmosfer karena kualitas udara buruk di suatu wilayah dapat dipengaruhi lebih dari satu sumber. Arah angin dan pola pergerakan massa udara menjadi bagian penting untuk menentukan asal partikel yang terdeteksi. Karena itu, data satelit, pemantauan titik panas, serta pengukuran kualitas udara menjadi instrumen utama untuk melihat hubungan antara kebakaran dan kondisi udara di negara lain. Pendekatan berbasis data diperlukan agar respons regional dapat dilakukan secara tepat dan tidak hanya berdasarkan perkiraan.
Indonesia sebelumnya telah memperkuat koordinasi dengan negara-negara ASEAN untuk menghadapi ancaman kabut asap lintas batas. Pada Juli 2026, perwakilan sejumlah negara bertemu dalam forum tingkat menteri yang membahas kesiapsiagaan menghadapi peningkatan risiko karhutla. Pertemuan tersebut menekankan pentingnya sistem peringatan dini, pemantauan titik panas, pertukaran informasi, serta respons cepat ketika kebakaran mulai berkembang. Perubahan pola cuaca dan kemungkinan kondisi kering berkepanjangan menjadi salah satu perhatian utama karena dapat meningkatkan kerawanan kebakaran. Kerja sama tersebut menjadi semakin relevan ketika kabut asap kembali dilaporkan bergerak melintasi wilayah negara ASEAN.
Persoalan kabut asap lintas batas sebenarnya telah memiliki kerangka kerja regional melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution. Kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi negara anggota untuk bekerja sama dalam pencegahan, pemantauan, dan penanganan pencemaran asap lintas batas. Indonesia juga telah menjadi bagian dari kesepakatan tersebut dan memiliki kewajiban untuk terus memperkuat upaya pencegahan serta pengendalian kebakaran. Dalam praktiknya, keberhasilan kerja sama sangat bergantung pada kemampuan setiap negara mengendalikan sumber kebakaran di wilayah masing-masing. Pertukaran data dan bantuan teknis juga dapat dilakukan ketika skala kebakaran membutuhkan dukungan yang lebih besar.
Di dalam negeri, operasi penanganan karhutla terus dilakukan melalui pemadaman darat maupun udara. Helikopter water bombing dikerahkan di sejumlah wilayah untuk menjangkau kebakaran yang sulit dicapai petugas melalui jalur darat. Pemerintah juga menggunakan pesawat untuk mendukung operasi pemadaman pada kawasan dengan kebakaran luas. Namun, kondisi kabut asap yang pekat dalam beberapa kasus justru dapat menjadi kendala penerbangan karena mengurangi jarak pandang. Petugas darat karena itu tetap memiliki peran penting dalam memadamkan titik api sekaligus memastikan kawasan yang sudah terbakar tidak kembali menyala.
Karakteristik lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kebakaran di Indonesia. Api dapat merambat di bawah permukaan gambut sehingga bagian atas lahan terlihat sudah padam sementara bara masih tersimpan di dalam tanah. Kondisi tersebut memungkinkan kebakaran muncul kembali ketika cuaca panas dan angin menguat. Proses pemadaman membutuhkan pembasahan hingga lapisan gambut yang cukup dalam sehingga membutuhkan volume air besar dan waktu yang tidak singkat. Apabila kebakaran gambut terjadi dalam skala luas, asap yang dihasilkan juga dapat bertahan lama dan terbawa angin menuju wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran.
Pemerintah juga meningkatkan penegakan hukum terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab atas kebakaran. Sejumlah perusahaan yang memiliki kawasan konsesi terdampak karhutla telah masuk dalam proses pengawasan dan penindakan. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan telah menjalankan kewajiban pencegahan dan pengendalian kebakaran atau terdapat unsur kelalaian maupun pelanggaran. Selain perusahaan, individu yang terbukti sengaja melakukan pembakaran juga dapat diproses berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. Penegakan hukum dipandang penting karena pemadaman tidak akan menyelesaikan persoalan apabila praktik pembakaran terus berulang setiap musim kemarau.
Dampak kabut asap terhadap kesehatan menjadi alasan utama negara-negara terdampak meningkatkan kewaspadaan. Partikel PM2,5 dapat masuk ke sistem pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila terhirup dalam konsentrasi tinggi atau dalam jangka waktu panjang. Kelompok dengan penyakit pernapasan, anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih besar ketika kualitas udara memburuk. Dalam kondisi pencemaran tinggi, masyarakat dapat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan yang sesuai apabila harus beraktivitas. Pemerintah masing-masing negara juga dapat mengambil langkah tambahan berdasarkan perkembangan indeks kualitas udara.
Dampak ekonomi dari kabut asap juga berpotensi meluas apabila kondisi berlangsung berkepanjangan. Jarak pandang yang menurun dapat mengganggu penerbangan dan transportasi, sementara aktivitas pariwisata maupun kegiatan luar ruangan dapat mengalami penurunan. Sekolah dan fasilitas publik juga berpotensi melakukan penyesuaian kegiatan apabila kualitas udara mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan. Di Indonesia sendiri, masyarakat di sekitar kawasan kebakaran menghadapi dampak yang lebih langsung karena berada dekat dengan sumber asap. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian karhutla memiliki kepentingan nasional sekaligus regional.
Perkembangan terbaru kembali menempatkan kerja sama ASEAN sebagai salah satu instrumen penting dalam menghadapi kabut asap. Negara-negara anggota memiliki kepentingan bersama untuk memperkuat pertukaran informasi mengenai titik panas, arah angin, kondisi cuaca, dan kualitas udara. Respons yang cepat dapat membantu negara terdampak mempersiapkan langkah perlindungan masyarakat sebelum konsentrasi polutan mencapai tingkat berbahaya. Indonesia juga perlu memastikan operasi pemadaman mendapatkan dukungan yang memadai agar titik api dapat ditekan sebelum menghasilkan asap dalam jumlah lebih besar. Koordinasi tersebut menjadi semakin penting karena perubahan cuaca dapat membuat arah penyebaran kabut asap berubah dalam waktu relatif singkat.
Kabut asap karhutla yang kembali melintasi batas negara pada akhirnya menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia memiliki konsekuensi yang jauh melampaui kawasan tempat api bermula. Penurunan kualitas udara yang dilaporkan di Filipina dan sejumlah wilayah negara tetangga meningkatkan perhatian terhadap efektivitas pengendalian kebakaran selama musim kering. Pemerintah Indonesia kini menghadapi kebutuhan untuk mempercepat pemadaman, memperkuat patroli, menindak pelaku pembakaran, dan mencegah munculnya titik api baru secara bersamaan. Negara-negara ASEAN juga terus memantau perkembangan karena perubahan arah angin dapat memperluas wilayah yang terdampak. Penanganan yang konsisten dan kerja sama regional akan menjadi faktor penting untuk menghentikan penyebaran kabut asap sekaligus mencegah krisis lingkungan lintas batas berkembang semakin luas.







