Teheran, 28 Juli 2026 – Otoritas Iran mengeksekusi dua pria yang dijatuhi hukuman mati terkait demonstrasi antipemerintah yang berlangsung pada Januari 2026. Kedua pria tersebut diidentifikasi sebagai Abolfazl Sepahi Badjani dan Amir Hossein Safari Hosseinabadi. Menurut lembaga peradilan Iran, keduanya dinyatakan bersalah dalam perkara yang mencakup kematian empat anggota kepolisian di Isfahan, pembakaran sebuah kantor polisi, serta perusakan fasilitas publik. Hukuman dilaksanakan pada Selasa di tengah perhatian besar terhadap penanganan peserta demonstrasi oleh pemerintah Iran. Eksekusi tersebut kembali memunculkan perdebatan mengenai penggunaan hukuman mati terhadap orang-orang yang ditangkap dalam gelombang demonstrasi. Kelompok hak asasi manusia juga terus menyoroti nasib tahanan lain yang menghadapi ancaman hukuman berat.
Perkara kedua pria itu berkaitan dengan gelombang demonstrasi besar yang berlangsung pada awal tahun dan menyebar ke berbagai wilayah Iran. Aksi tersebut berkembang di tengah ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan pemerintahan, kemudian diikuti bentrokan di sejumlah kota. Pemerintah Iran menyatakan sebagian demonstrasi berubah menjadi kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan fasilitas umum. Aparat keamanan melakukan penangkapan dalam jumlah besar selama periode tersebut dan sejumlah orang kemudian menghadapi proses pengadilan. Peristiwa di Isfahan menjadi salah satu kasus yang mendapatkan perhatian karena melibatkan kematian anggota kepolisian. Pemerintah mempertahankan bahwa proses hukum terhadap terdakwa dilakukan berdasarkan tuduhan pidana yang berkaitan dengan kekerasan selama kerusuhan.
Pelaksanaan hukuman mati tersebut berlangsung di tengah pengamanan ketat di kawasan Isfahan. Kasus ini menjadi sorotan karena sebelumnya muncul upaya dan seruan agar eksekusi terhadap sejumlah terpidana yang berkaitan dengan demonstrasi dihentikan. Kelompok hak asasi manusia mempertanyakan proses peradilan terhadap para terdakwa dan menyerukan transparansi mengenai bukti serta tahapan hukum yang mereka jalani. Di sisi lain, lembaga peradilan Iran menyatakan keputusan dijatuhkan berdasarkan keterlibatan para terpidana dalam tindakan yang menyebabkan kematian aparat keamanan. Perbedaan pandangan mengenai perkara tersebut memperlihatkan ketegangan antara narasi pemerintah dan kelompok yang mengkritik penanganan demonstrasi. Eksekusi terbaru membuat perkembangan hukum terhadap tahanan lainnya kembali menjadi perhatian.
Demonstrasi yang berlangsung pada akhir 2025 hingga awal 2026 menjadi salah satu periode pergolakan domestik yang serius bagi Iran. Aksi yang bermula dari persoalan ekonomi berkembang menjadi tuntutan yang lebih luas terhadap pemerintah dan berlangsung di berbagai wilayah. Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan terjadi ketika pemerintah berusaha mengendalikan aksi yang terus berkembang. Jumlah korban selama periode tersebut menjadi perdebatan karena pemerintah dan kelompok hak asasi manusia menyampaikan angka yang berbeda. Ribuan orang juga dilaporkan ditangkap selama penindakan terhadap demonstrasi. Setelah aksi mereda, proses hukum terhadap sejumlah tahanan berlanjut dan beberapa perkara berakhir dengan vonis mati.
Eksekusi terhadap Abolfazl Sepahi Badjani dan Amir Hossein Safari Hosseinabadi bukan menjadi satu-satunya pelaksanaan hukuman mati yang dikaitkan dengan demonstrasi Januari. Sebelumnya, Iran juga telah menjalankan sejumlah vonis terhadap orang yang dituduh melakukan pelanggaran berat selama gelombang aksi tersebut. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa terpidana lain yang menghadapi hukuman serupa dapat segera menjalani eksekusi. Organisasi hak asasi manusia terus meminta pemerintah Iran menghentikan pelaksanaan hukuman mati terhadap mereka yang berkaitan dengan demonstrasi dan memastikan proses peradilan memenuhi standar hukum yang adil. Pemerintah Iran, sementara itu, menegaskan adanya perbedaan antara aksi demonstrasi dan tindakan kekerasan yang menimbulkan korban. Perbedaan tersebut menjadi pusat perdebatan mengenai penanganan perkara para terpidana.
Perkembangan ini turut menarik perhatian internasional terhadap situasi hak asasi manusia di Iran. Hukuman mati telah lama menjadi salah satu isu yang mendapatkan kritik dari berbagai organisasi internasional, terutama ketika diterapkan dalam perkara yang memiliki hubungan dengan demonstrasi dan aktivitas politik. Kritik biasanya berfokus pada akses terhadap pendampingan hukum, keterbukaan proses pengadilan, serta penggunaan hukuman paling berat dalam situasi politik yang sensitif. Iran tetap mempertahankan sistem hukumnya dan menyatakan tindakan pidana yang menyebabkan kematian maupun mengancam keamanan negara harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Pemerintah juga menolak sejumlah kritik eksternal yang dianggap mencampuri proses hukum domestik. Situasi tersebut membuat setiap eksekusi terkait demonstrasi terus mendapat perhatian dari luar negeri.
Hingga 28 Juli 2026, pelaksanaan hukuman terhadap dua pria tersebut menambah rangkaian eksekusi yang berkaitan dengan demonstrasi besar pada awal tahun. Perhatian kini tertuju pada tahanan lain yang telah menerima vonis berat atau masih menjalani proses hukum atas perkara yang berhubungan dengan gelombang aksi tersebut. Pemerintah Iran tetap menempatkan keamanan dan penegakan hukum sebagai dasar tindakan terhadap individu yang dinilai melakukan kekerasan selama demonstrasi. Sementara itu, kelompok hak asasi manusia terus mendorong penghentian eksekusi dan meminta pemeriksaan lebih terbuka terhadap perkara para terdakwa. Perbedaan pandangan antara pemerintah dan kelompok hak asasi manusia diperkirakan akan terus menyertai perkembangan kasus-kasus tersebut. Nasib para tahanan lainnya pun menjadi salah satu isu yang akan terus mendapat perhatian setelah dua eksekusi terbaru ini.






