Konawe, 30 Agustus 2026 – Perubahan iklim semakin terasa dalam kehidupan masyarakat pesisir, termasuk perempuan nelayan Suku Bajo di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Laut yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan kini menghadirkan tantangan baru berupa cuaca yang sulit diprediksi, hasil tangkapan menurun, serta biaya melaut yang semakin tinggi.
Kondisi tersebut membuat perempuan Bajo harus mengambil peran lebih besar untuk menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga. Selain menjalankan pekerjaan domestik, sebagian dari mereka ikut turun ke laut mencari ikan, teripang, kerang, kepiting, hingga hasil laut lainnya.
Perubahan kondisi laut membuat pekerjaan tersebut tidak lagi mudah. Nelayan harus mempertimbangkan cuaca sebelum berangkat karena gelombang tinggi dan angin kencang dapat membahayakan keselamatan.
Hasil Tangkapan Terus Menurun
Masyarakat Bajo di Soropia telah lama menggantungkan kehidupan pada laut. Namun, hasil tangkapan yang dahulu relatif melimpah kini semakin sulit diperoleh.
Peneliti nelayan Bajo di Soropia, Amar Maruf, menyebut perubahan iklim berkontribusi terhadap penurunan hasil tangkapan. Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui berkurangnya ikan, tetapi juga meningkatnya biaya operasional dan semakin sulitnya menentukan wilayah tangkap.
Nelayan juga harus pergi lebih jauh untuk memperoleh hasil yang memadai. Kondisi tersebut membuat kebutuhan bahan bakar meningkat, sementara hasil tangkapan belum tentu mampu menutup biaya perjalanan.
Bagi keluarga nelayan, situasi tersebut menjadi persoalan serius. Ketika penghasilan suami dari melaut tidak mencukupi, perempuan harus ikut mencari sumber pendapatan tambahan.
Perempuan Ikut Turun ke Laut
Herlina, salah satu perempuan nelayan di wilayah Soropia, menjadi contoh bagaimana perempuan ikut menopang ekonomi keluarga. Ia turun ke laut untuk mencari berbagai hasil laut ketika pendapatan dari aktivitas melaut suaminya tidak mencukupi.
Dalam kondisi tertentu, perempuan mencari teripang, kepiting, kerang, dan hasil laut lainnya ketika air surut. Hasilnya kemudian dijual untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan anak-anak.
Situasi serupa dialami Rida, perempuan nelayan yang menjadi tumpuan utama keluarganya. Sejak menjadi orang tua tunggal, ia mencari nafkah dengan mengumpulkan teripang dan berbagai jenis kerang.
Teripang biasanya dikeringkan terlebih dahulu agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Namun, ketika membutuhkan uang dengan cepat, hasil tangkapan harus dijual dalam kondisi basah dengan harga yang lebih rendah.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar membantu pekerjaan nelayan laki-laki. Dalam banyak keluarga pesisir, perempuan turut menjadi pencari nafkah sekaligus pengelola kebutuhan rumah tangga.
Cuaca Ekstrem Tingkatkan Risiko
Ketidakpastian cuaca menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan masyarakat Bajo. Nelayan kini tidak selalu dapat mengandalkan tanda-tanda alam yang sebelumnya digunakan untuk menentukan waktu melaut.
Perubahan pola angin, hujan, dan gelombang membuat keputusan untuk pergi ke laut menjadi lebih berisiko. Ketika cuaca buruk, nelayan terpaksa tidak melaut dan keluarga kehilangan pemasukan.
Risiko tersebut juga dirasakan perempuan yang mencari hasil laut pada malam hari. Mereka harus menyesuaikan aktivitas dengan kondisi pasang surut serta cuaca.
Bagi keluarga yang pendapatannya bergantung pada laut, satu hari tidak melaut dapat berarti berkurangnya kemampuan memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan anak, dan keperluan rumah tangga lainnya.
Akses Bantuan Masih Terbatas
Di tengah peran ekonomi yang semakin besar, perempuan nelayan Bajo masih menghadapi persoalan pengakuan. Sebagian perempuan yang sehari-hari bekerja di laut belum memperoleh akses yang sama terhadap berbagai program pemerintah.
Rida, misalnya, mengaku belum mendapatkan kartu nelayan meski aktivitas mencari hasil laut menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Keterbatasan pengakuan tersebut dapat berpengaruh terhadap akses perempuan terhadap bantuan, subsidi, permodalan, asuransi, pelatihan, hingga pendampingan usaha.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara kontribusi perempuan dalam sektor perikanan dengan pengakuan formal terhadap pekerjaan mereka.
Muncul Kecemasan Ekologis
Tekanan terhadap kehidupan pesisir tidak hanya berdampak pada ekonomi dan keselamatan. Perubahan lingkungan juga memengaruhi kondisi psikologis perempuan nelayan.
Peneliti psikologi Uswatun Hasanah menyebut pengalaman perempuan Bajo menghadapi laut yang berubah dapat memunculkan kecemasan ekologis atau eco-anxiety.
Kecemasan tersebut bukan sekadar muncul karena mengetahui adanya perubahan iklim melalui informasi. Perasaan itu tumbuh dari pengalaman langsung ketika mereka melihat cuaca semakin tidak menentu, hasil tangkapan berkurang, dan laut yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan semakin sulit diandalkan.
Perempuan juga memikul beban emosional keluarga. Ketika suami kehilangan penghasilan atau anak-anak menghadapi kebutuhan yang tidak mudah dipenuhi, perempuan sering menjadi pihak yang menjaga ketenangan keluarga.
Dengan demikian, dampak krisis iklim bagi perempuan Bajo bersifat berlapis, mulai dari tekanan ekonomi, risiko keselamatan, beban pekerjaan domestik, hingga persoalan psikologis.
Gotong Royong Jadi Penyangga
Di tengah berbagai tekanan tersebut, masyarakat Bajo masih memiliki mekanisme sosial untuk saling menguatkan. Kebiasaan membantu dan berbagi cerita menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir.
Dalam bahasa Bajo, kebiasaan saling membantu tersebut dikenal sebagai sitabangan. Praktik ini menjadi salah satu cara masyarakat menghadapi situasi yang semakin tidak pasti.
Bagi perempuan, dukungan komunitas menjadi penting karena mereka tidak hanya menghadapi perubahan lingkungan, tetapi juga harus menjaga keberlangsungan keluarga.
Krisis iklim pada akhirnya tidak hanya mengubah cara masyarakat Bajo mencari ikan. Perubahan laut turut mengubah pembagian peran dalam keluarga, memperbesar beban perempuan, dan menuntut mereka mencari berbagai cara agar kehidupan tetap berjalan.
Perempuan Bajo kini berada di garis depan menghadapi perubahan tersebut. Mereka tetap bekerja di laut ketika kondisi memungkinkan, mengelola hasil tangkapan, memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus menghadapi ketidakpastian lingkungan yang semakin nyata dari hari ke hari.





