Jakarta, 5 November 2026 – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menekankan pentingnya dialog dan kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. Perubahan kondisi geopolitik, ketidakpastian ekonomi, serta perkembangan teknologi dinilai membutuhkan pendekatan bersama yang melibatkan banyak pihak. Komunikasi terbuka menjadi salah satu langkah penting untuk membangun kesepahaman dan mencegah munculnya konflik berkepanjangan. Indonesia diharapkan terus memperkuat kerja sama internasional dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional.
Tantangan global saat ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan politik antarnegara, tetapi juga mencakup persoalan ekonomi, lingkungan, dan keamanan. Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan serta distribusi kebutuhan pokok. Selain itu, perubahan iklim dan perkembangan teknologi digital menghadirkan persoalan baru yang membutuhkan penanganan lintas sektor. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa setiap negara perlu membangun hubungan yang konstruktif untuk menghadapi risiko bersama.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat memberikan sambutan pembuka dalam Bosphorus Summit ke-17 di Istanbul, Turki, Kamis (5/11/2026). Forum internasional yang diselenggarakan International Cooperation Platform tersebut mengangkat tema Global Transformation and Search for Stability. Lestari hadir bersama sejumlah tokoh dunia, termasuk Presiden Senat Yordania Faisal Al-Fayez dan Menteri Keuangan Lebanon Yassine Jaber. Pertemuan itu menjadi ruang pertukaran pandangan mengenai upaya menciptakan stabilitas di tengah perubahan dunia.
Lestari menjelaskan bahwa stabilitas global tidak seharusnya dibangun melalui tekanan yang justru memperbesar perpecahan. Menurutnya, stabilitas yang berkelanjutan harus tumbuh dari rasa saling percaya antara negara dan masyarakat. Ia menilai perubahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan dunia sehingga tidak dapat dihindari sepenuhnya. Karena itu, dialog diperlukan untuk membangun kepercayaan sekaligus menemukan penyelesaian terhadap berbagai persoalan bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Lestari memperkenalkan tradisi musyawarah yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan bahwa MPR merupakan lembaga yang menjunjung prinsip permusyawaratan dalam menghadapi perbedaan pandangan. Penyelesaian persoalan melalui dialog dinilai lebih konstruktif dibandingkan pendekatan yang mengutamakan tekanan atau pertentangan. Nilai tersebut juga sejalan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menempatkan keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
Selain menekankan pentingnya dialog, Lestari mengajak negara-negara memperluas kolaborasi dalam bidang pendidikan serta penanganan bencana. Kerja sama internasional dinilai diperlukan untuk memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi perubahan iklim dan berbagai risiko kemanusiaan. Ia juga mendorong peningkatan keterlibatan perempuan dan generasi muda dalam proses penyelesaian persoalan global. Kedua kelompok tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menghadirkan gagasan dan pendekatan baru bagi pembangunan berkelanjutan.
Melalui forum internasional tersebut, Lestari berharap semangat musyawarah dan kolaborasi dapat semakin berkembang dalam hubungan antarnegara. Indonesia memiliki pengalaman mengelola keberagaman yang dapat menjadi bahan pembelajaran dalam membangun kesepahaman. Dialog yang terbuka diharapkan mampu memperkuat kepercayaan dan menghasilkan kerja sama yang memberikan manfaat nyata. Dengan mengedepankan persatuan serta penghormatan terhadap perbedaan, berbagai tantangan global diharapkan dapat dihadapi melalui pendekatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.





