Kupang, 18 September 2026 – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono turun langsung melihat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengunjungi SDK St Arnoldus Penfui, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dalam kunjungan pada Rabu, 16 September 2026 tersebut, Sudaryono tidak hanya memantau distribusi makanan, tetapi juga duduk dan menyantap menu MBG bersama para siswa. Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena turut mendampingi dan mengikuti kegiatan makan bersama tersebut. Kehadiran keduanya mendapatkan sambutan antusias dari para siswa yang mengikuti kegiatan di sekolah. Kunjungan tersebut sekaligus dimanfaatkan BGN untuk melihat langsung kualitas pelaksanaan program dari perspektif penerima manfaat.
Sebelum makan bersama dimulai, Sudaryono berinteraksi dengan para siswa melalui sesi tanya jawab. Anak-anak terlihat antusias mengangkat tangan ketika mendapatkan pertanyaan dari Kepala BGN. Beberapa siswa yang berhasil memberikan jawaban dengan tepat memperoleh hadiah. Suasana kemudian menjadi semakin cair ketika Sudaryono berbincang dengan anak-anak mengenai makanan yang mereka terima. Interaksi tersebut memberikan kesempatan kepada BGN untuk mendapatkan respons langsung tanpa hanya mengandalkan laporan administratif mengenai pelaksanaan program. Bagi siswa, kunjungan tersebut menjadi pengalaman berbeda karena mereka dapat makan dan berkomunikasi langsung dengan pejabat yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan MBG secara nasional.
Menu MBG yang disajikan kepada siswa pada kesempatan tersebut terdiri atas nasi putih, ayam goreng, sayur, dan buah semangka. Sudaryono dan Gubernur NTT menyantap makanan yang sama dengan menu yang diberikan kepada anak-anak. Salah seorang siswa bernama Rachel menyampaikan bahwa dirinya menyukai makanan yang disediakan dan merasa kenyang setelah menyantapnya. Respons siswa menjadi salah satu hal yang diperhatikan karena penerimaan anak terhadap makanan berpengaruh terhadap efektivitas program pemenuhan gizi. Menu yang mempunyai kandungan gizi baik tetapi tidak dikonsumsi secara optimal tentu dapat mengurangi manfaat yang ingin dicapai. Karena itu, kualitas rasa, variasi makanan, keamanan pangan, dan kandungan gizi perlu berjalan secara beriringan.
Sudaryono menjelaskan bahwa kunjungannya menjadi kesempatan untuk melihat pelaksanaan MBG secara langsung sekaligus mendengarkan tanggapan siswa sebagai penerima manfaat. BGN ingin memastikan makanan yang diterima anak tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga aman dan dapat dinikmati. Pengawasan langsung menjadi penting mengingat MBG dilaksanakan dalam skala besar dan melibatkan banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di berbagai daerah. Setiap wilayah mempunyai karakteristik berbeda dari sisi ketersediaan bahan pangan, distribusi, hingga kebiasaan konsumsi masyarakat. Kondisi tersebut membuat standar pelaksanaan harus tetap dijaga tanpa menghilangkan ruang pemanfaatan bahan pangan yang sesuai dengan kondisi lokal. Evaluasi lapangan dapat memberikan gambaran mengenai persoalan yang mungkin tidak terlihat melalui laporan rutin.
Aspek rasa juga mendapatkan perhatian dalam penyelenggaraan MBG karena makanan perlu benar-benar dikonsumsi oleh anak agar manfaat gizinya dapat diperoleh. BGN sebelumnya menekankan bahwa pengalaman makan di sekolah mempunyai peran dalam membentuk pola konsumsi generasi muda. Paparan terhadap makanan sehat sejak usia sekolah dapat membantu memperkenalkan kebiasaan konsumsi yang lebih beragam dan seimbang. Karena itu, penyusunan menu tidak hanya berkaitan dengan perhitungan zat gizi, tetapi juga bagaimana makanan tersebut dapat diterima oleh anak. Penggunaan bahan pangan lokal dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menyesuaikan menu dengan kebiasaan konsumsi masyarakat di masing-masing wilayah. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara standar gizi, cita rasa, keamanan, harga bahan, dan kemampuan produksi dalam jumlah besar.
Keamanan pangan tetap menjadi salah satu bagian penting yang harus dijaga dalam setiap tahapan pelaksanaan MBG. Proses tersebut dimulai sejak pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi makanan menuju sekolah. Jarak waktu antara proses memasak dan konsumsi juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi makanan. BGN sebelumnya telah melakukan berbagai pembenahan pengawasan, termasuk mendorong sertifikasi SPPG dan memperkuat pemantauan kualitas makanan. Skala pelayanan yang besar membuat pengendalian mutu harus diterapkan secara konsisten di seluruh titik layanan. Setiap persoalan yang ditemukan perlu menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa dapat dicegah di lokasi lainnya.
Kunjungan langsung Kepala BGN juga memperlihatkan pentingnya mendapatkan umpan balik dari penerima manfaat. Anak-anak dapat memberikan respons sederhana mengenai rasa, variasi, maupun menu yang mereka sukai. Informasi tersebut dapat menjadi pelengkap evaluasi teknis yang dilakukan petugas gizi dan pengelola SPPG. Namun, preferensi anak tetap perlu diselaraskan dengan standar kebutuhan gizi sehingga menu tidak hanya mengikuti makanan yang paling disukai. Edukasi mengenai pola makan sehat juga dapat diberikan bersamaan dengan pelaksanaan program. Dengan pendekatan tersebut, MBG dapat berfungsi tidak hanya sebagai penyedia makanan, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan kebiasaan konsumsi sehat sejak usia sekolah.
Pelaksanaan MBG di Nusa Tenggara Timur mempunyai tantangan tersendiri karena kondisi geografis dan rantai pasok bahan pangan berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Ketersediaan bahan makanan yang stabil menjadi penting agar SPPG dapat mempertahankan kualitas menu setiap hari. Pemanfaatan komoditas lokal berpotensi membantu memenuhi kebutuhan tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan di sekitar lokasi pelayanan. Namun, pemasok tetap perlu memenuhi standar kualitas dan keamanan yang ditentukan. Sistem pengadaan juga membutuhkan perencanaan karena kebutuhan bahan makanan berlangsung secara rutin dalam volume besar. Semakin luas cakupan penerima, semakin penting pula koordinasi antara SPPG, sekolah, pemerintah daerah, dan pemasok.
Pengawasan terhadap MBG menjadi semakin penting seiring besarnya skala program dan jumlah anggaran yang digunakan. BGN perlu memastikan peningkatan jangkauan penerima berjalan bersama peningkatan kualitas tata kelola. Keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah porsi makanan yang berhasil dibagikan, tetapi juga dari keamanan, kandungan gizi, ketepatan sasaran, dan konsistensi pelayanan. Kunjungan lapangan dapat menjadi salah satu instrumen untuk membandingkan laporan pelaksanaan dengan kondisi sebenarnya. Evaluasi tersebut juga dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan perbaikan pada fasilitas dapur, distribusi, tenaga kerja, maupun prosedur pengolahan. Pembenahan yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi penting karena pelayanan MBG berlangsung setiap hari dan menjangkau anak-anak sebagai kelompok penerima utama.
Momen Sudaryono menikmati MBG bersama siswa SDK St Arnoldus Penfui pada akhirnya menjadi bagian dari pemantauan langsung terhadap pelaksanaan program di daerah. Dengan menyantap menu yang sama, Kepala BGN dapat melihat dan merasakan secara langsung makanan yang diterima para siswa. Interaksi dengan anak-anak juga memberikan gambaran mengenai penerimaan mereka terhadap menu yang disediakan. BGN menempatkan makanan bergizi, aman, dan dapat dinikmati sebagai unsur yang perlu dipenuhi secara bersamaan dalam pelaksanaan program. Pengawasan lapangan tetap diperlukan untuk memastikan standar tersebut diterapkan secara konsisten di setiap SPPG. Pengalaman di Kupang diharapkan dapat menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan agar pelaksanaan MBG semakin sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia.






